Tampilkan postingan dengan label Dokumentasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dokumentasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Oktober 2010

Upacara pembakaran mayat/ngaben/pelebonan di Jero Jematang Denpasar Bali


Ngaben adalah upacara pembakaran mayat yang dilakukan di Bali, khususnya oleh yang beragama Hindu, dimana Hindu adalah agama mayoritas di Pulau Seribu Pura ini. Di dalam Panca Yadnya, upacara ini termasuk dalam Pitra Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur. Makna upacara Ngaben pada intinya adalah untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa.
Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Dalam sekali upacara ini biasanya menghabiskan dana 15 juta s/d 20 juta rupiah. Upacara ini biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya.
Hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari baik yang biasanya ditentukan oleh Pedanda. Beberapa hari sebelum upacara Ngaben dilaksanakan keluarga dibantu oleh masyarakat akan membuat “Bade dan Lembu” yang sangat megah terbuat dari kayu, kertas warna-warni dan bahan lainnya. “Bade dan Lembu” ini merupakan tempat mayat yang akan dilaksanakan Ngaben.
Pagi hari ketika upacara ini dilaksanakan, keluarga dan sanak saudara serta masyarakat akan berkumpul mempersiapkan upacara. Mayat akan dibersihkan atau yang biasa disebut “Nyiramin” oleh masyarakat dan keluarga, “Nyiramin” ini dipimpin oleh orang yang dianggap paling tua didalam masyarakat. Setelah itu mayat akan dipakaikan pakaian adat Bali seperti layaknya orang yang masih hidup. Sebelum acara puncak dilaksanakan, seluruh keluarga akan memberikan penghormatan terakhir dan memberikan doa semoga arwah yang diupacarai memperoleh tempat yang baik. Setelah semuanya siap, maka mayat akan ditempatkan di “Bade” untuk diusung beramai-ramai ke kuburan tempat upacara Ngaben, diiringi dengan “gamelan”, “kidung suci”, dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat, di depan “Bade” terdapat kain putih yang panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya. Di setiap pertigaan atau perempatan maka “Bade” akan diputar sebanyak 3 kali. Sesampainya di kuburan, upacara Ngaben dilaksanakan dengan meletakkan mayat di “Lembu” yang telah disiapkan diawali dengan upacara-upacara lainnya dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian “Lembu” dibakar sampai menjadi Abu. Abu ini kemudian dibuang ke Laut atau sungai yang dianggap suci.
Setelah upacara ini, keluarga dapat tenang mendoakan leluhur dari tempat suci dan pura masing-masing. Inilah yang menyebabkan ikatan keluarga di Bali sangat kuat, karena mereka selalu ingat dan menghormati lelulur dan juga orang tuanya. Terdapat kepercayaan bahwa roh leluhur yang mengalami reinkarnasi akan kembali dalam lingkaran keluarga lagi, jadi biasanya seorang cucu merupakan reinkarnasi dari orang tuanya.























Jumat, 20 Agustus 2010

Wayang Cenk Blong - Perande vs Sokir

Perande vs Sokir

Hubungan Kerauhan dengan Bhagawad Gita



Dalam Bhagavad-gita 3. 42 dijelaskan struktur yang membentuk jasmani dan rohani manusia mulai dari indria-indria sebagai struktur yang paling bawah, kemudian lapisan diatasnya yang lebih sempurna adalah pikiran, buddhi dan akhirnya kesadaran sang diri, Atma. Struktur ini menegasikan, bahwa Atma sebagai kesadaran tertinggi hendaknya mengendalikan buddhi, buddhi mengendalikan pikiran, dan selanjutnya pikiran mengendalikan indria-indria. Dalam arti ini, orang yang disebut bertindak benar ialah orang yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan indrianya yang dikendalikan pikiran, dan yang pikirannya dikendalikan buddhi, dan yang buddhinya lebih jauh telah dicerahi atma.
Atma adalah locus yang menjadi sumber pengalaman rohani dan pengalaman empiris manusia. Seluruh pengalaman manusia, baik ketika ia sadar maupun ketika ia tertidur, terakumulasi di dalam gua garbha atma. Karena itu atma widya adalah pengetahuan spiritual yang memberikan pembebasan. Orang yang bertindak karena pengaruh kesadaran atma, ia bertindak dengan cara yang benar, dan ia selalu suci serta siap menerima wahyu.
Apabila atma tidak mengendalikan indria-indria melalui buddhi dan pikiran, maka terjadi kehampaan dalam diri orang tersebut. Dalam keadaan hampa tersebut, maka mudah sekali stimulan mempengaruhi diri seseorang. Oleh karena itu, orang yang dikendalikan indria-indrianya, tanpa pencerahan dari sang atma, maka ia mudah sekali mengalami kerauhan. Stimulan yang menyebabkan kerauhan bisa karena roh dan juga bisa karena akumulasi masalah yang dihadapi di dunia ini. Orang yang mengalami stress dan strain berat, kadang-kadang menjerit-jerit seperti orang mengalami kerauhan. Akhir-akhir ini, banyak penduduk miskin di kota-kota yang rumahnya dirobohkan atau dibakar Satpol PP Pemda setempat, mereka berteriak-teriak histeris persis seperti orang yang mengalami kerauhan.
Jadi, mudahnya stimulan dari luar mempengaruhi kesadaran seseorang menunjukkan bahwa kedirian orang itu masih labil sehingga keadaannya seperti perahu di laut yang mudah diombang-ambingkan gelombang. Dalam pandangan agama, yang mengombang-ambingkan kehidupan kita sehingga mengalami suka dan duka di dunia ini, ialah tiga sifat alam yang disebut tri guna, yaitu satwam, rajas dan tamas. Kita merasakan kebahagiaan dan cenderung melakukan kegiatan saleh karena sedang berada dalam pengaruh satvika. Sedangkan sifat-sifat rajas mendorong kita dinamis dan juga ambisi. Sementara kemalasan merupakan perwujudan dari tamasa guna. Triguna inilah yang menjadi sumber sukacita dan dukacita makhluk hidup di dunia ini. Bahkan kelahiran-kelahiran yang lebih rendah juga disebabkan karena tingkat pengaruh triguna tersebut. Itulah sebabnya Sri Krisna di dalam Bhagavad-Gita menganjurkan, triguna tita, atasilah triguna.
Bagaimana mengatasi triguna? Inilah dengan senantiasa menempatkan indera-indera kita selalu dalam pengaruh yang berjenjang mulai dari pikiran, buddhi dan atma. Artinya, dia menyucikan indera-inderanya dengan kebenaran buddhi dan atma, seperti dianjurkan dalam Manawa Dharma Sastra 5.109, sbb: tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapabrata, kecerdasan dengan pengetahuan yang benar.
Tentang struktur yang membangun badan jasmani dan rohani manusia, atau dengan kata lain, mulai dari bentuk kasar (indera-indera) sebagai struktur yang paling rendah sampai kepada bentuk yang paling halus (atma) sebagai struktur yang tertinggi, bukanlah monopoli Bhagavad-gita. Varian-varian lain diuraikan dalam kesusastraan Veda yang lainnya, seperti Upanisad dan Wrhaspati Tattwa. Dalam Upanisad kita menemukan istilah kosa atau lapisan yang membentuk badan manusia, mulai dari lapisan yang paling luar (kasar) sampai kepada lapisan yang paling dalam (halus), seperti annamaya kosa, pranamaya kosa, manomaya kosa, vijnanamaya kosa, dan anandamaya kosa. Dalam Katha Upanisad, struktur itu disimbolkan dengan kereta, kuda, tali kekang, sopir dan pemilik kereta. Sementara di dalam Wrihaspatti Tattwa dijelaskan kedalam tiga istilah: sthula, suksama dan antakarana.
Dengan struktur itu semakin jelas bahwa fenomena kerauhan hanyalah terjadi pada tataran indera-indera yang mengalami kehampaan karena tidak tercerahkan oleh pengetahuan yang benar yang bersumber dari atma. Jadi, benar beperti apa yang dipaparkan penanya di atas, bahwa sulinggih jarang kerauhan. Bukan hanya jarang, malahan sejauh pengalaman kami, sulinggih tidak pernah mengalami kerauhan. Demikian juga, mereka yang berpikiran rasional, yang senantiasa berpikiran logis, dan menjadikan kegiatan berpikir sebagai medium pengembaraan yang sangat mengasyikkan, akan jarang diterpa kerauhan.
Jadi kerauhan itu bukanlah tanda bahwa seseorang sedang mengalami kematangan rohani atau kepenuhan rohani. Malahan, dalam kebanyakan kasus, kerauhan justru merupakan pertanda seseorang sedang terjerat dalam berbagai himpitan masalah, dan kerauhan itu menjadi salah satu konsesi atau pelarian untuk keluar dari kemelut kehidupan yang dialami seseorang. Saya masih ingat, semasa kecil, apabila ada kerauhan di pura, orang yang kerauhan tersebut malah dimarahi orang lain, yang memarahi biasanya biasanya orang itu usianya lebih tua. Orang yang memarahi ini berkata, "sing ja Bhatara ane ngalinggihin", maksudnya, bukan Bhatara yang hadir.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Sebab di dalam masyarakat, terutama di daerah Bali Selatan, ada istilah mamutik, artinya, orang sengaja karauhan supaya maksud-maksudnya atau keinginannya secara sekala tidak dipenuhi (baik oleh keluarga, istri suami, anak, dan masyarakat) supaya dengan kerauhan itu, keinginannya itu bisa dipenuhi. Saya punya pengalaman unik, ada orang yang pernah saya antar tirtayatra ke India, dan setelah kembali dari tirtayatra ke India, dia kerauhan di rumahnya. Dalam kerauhan itu, dia minta supaya dinikahkan dengan seorang gadis yang selama ini menjadi pasangan selingkuhnya. Dia juga menjelaskan, keluarganya akan hancur apabila dia tidak dinikahkan dengan gadis idamannya itu. Kalau model kerauhan seperti ini, kayaknya tidak hanya layak dimarahi, melainkan juga patut dibentak.
Di luar yang telah diuraikan di atas, persoalan karauhan tidaklah sesederhana seperti yang telah disajikan di atas. Pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana halnya dengan kerauhan yang ternyata petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh orang yang kerauhan itu, ternyata memang benar dan membawa keselamatan bagi orang yang dimaksudkan oleh orang yang kerauhan itu. Terhadap fenomena ini, orang Bali membedakan antara kerauhan dan kelinggihan. Kelinggihan adalah istilah lokal untuk fenomena pemahyuan. Jadi, dia bersumber dari Sang Diri, Kesadaran Agung, Atma.

‘Kerauhan’, Sugesti dalam Balutan Religi



 
Di Bali, ‘kerauhan’ (trance) sudah menjadi bagian yang terpisahkan dalam kehidupan sehari2 khususnya yang berkaitan dengan upacara adat maupun upacara agama. Lalu apa sebenarnya ‘kerauhan’ itu? Bisakah dimatematiskan bahwa kerauhan sama dengan kesurupan? Di Wiki yang ada hanya definisi kesurupan (bukan kerauhan) yaitu sebuah fenomena dimana seseorang berada diluar kendali pikirannya karena kemasukan kekuatan gaib.
Dalam konteks masyarakat Bali, saya berpendapat bahwa kerauhan sebagian besar berkaitan erat dengan adat istiadat dan agama, yg saya asumsikan sbb: suatu keadaan dimana seseorang berada diluar kesadaran pikiran atau berada dalam keadaan setengah sadar yang dipicu oleh suatu sugesti yang berlebihan terhadap suatu object baik itu yang material (tempat2 suci, benda2 yang disakralkan dll) dan juga object spiritual (Tuhan, dewa2 dll).
Disini, saya menemukan sebuah definisi yang menarik ttg kerauhan/trance. Kenapa menarik? Karena ada aspek ‘teknik’ dalam definisi tersebut dan juga ada kaitannya dengan ritual. Adanya aspek teknik, berarti adanya semacam metode/cara2 yang bisa diterapkan orang kebanyakan untuk bisa mencapai keadaan ‘trance’ ini. Dan saya punya pengalaman ttg teknik buatan untuk bisa kerauhan. Percaya atau tidak :)

Trance is an altered state of consciousness which individuals can enter through a variety of techniques, including hypnotism, drugs, sound (particularly music, percussive drumming etc.), sensory deprivation, physical hardships (eg. flagellation, starvation, exhaustion) and vigorous exercise (particularly dance). People can also use trance, particularly in the context of ‘ritual’ events.

Di Bali, mendengar orang dalam keadaan kerauhan otomatis kita akan berpikir bahwa dia sedang dimasuki kekuatan supernatural dari Tuhan ataupun dewa2 sehingga kerauhan juga dikenal dengan istilah ‘kelinggihan’. Berasal dari kata ‘linggih’ yang artinya tempat. Berarti sedang ‘ditempati’, sedang dipinjam raganya untuk sementara oleh kekuatan gaib. Fenomena ini banyak ditemukan misalnya pada saat upacara2 baik yang agama maupun adat.
Benarkah begitu mudahnya Tuhan ‘masuk’ ke dalam raga seseorang? Benarkah setiap fenomena kerauhan selalu identik dengan kekuatan2 gaib atau supernatural? Sepertinya tidak selalu begitu. Kerauhan/trance seringkali dipengaruhi dua faktor penting dalam sisi psikologis seseorang yaitu obsesi dan sugesti. Dalam masyarakat Hindu di Bali, dua faktor ini cenderung lebih besar ke kehidupan beragama mereka.
Bagaimana kita mengetahui bahwa kerauhan seseorang itu ‘asli’ atau ‘palsu’? (baca: sugesti dan obsesi). Saya tidak tahu tapi untuk tipe trance yang kedua bisa dicapai dengan cara2 tertentu yang tentunya masih berkaitan erat dengan agama (Hindu). Berikut ini saya ceritakan sedikit ttg cara2 yang pernah saya terapkan.
Niat untuk bisa trance diawali karena seringnya melihat orang2 kerauhan di Nusa Penida, bukan saja ditempat2 suci juga di acara2 adat lainnya. Orang2nyapun tidak selalu yang rohaninya tinggi tapi teman2 sebaya yang kalau diukur dosa2 dan sisi gelapnya mungkin akan membuat Tuhan berfikir 1000 kali untuk meminjam tubuhnya sehingga dia bisa kerauhan. Ada lagi fenomena dimana seseorang (katanya) bisa berkomunikasi dengan manisfestasi tertentu dari Tuhan. Maka sayapun terobsesi dan menerapkan cara2 saya sendiri untuk bisa trance.
Penting diingat, tingkat keberhasilan cara sederhana ini lebih tinggi jika ‘kundalini’ anda sudah dibuka juga diperlukan konsentrasi luar biasa pada satu object entah yang physical atau yang tidak nyata. Dalam hal ini saya memusatkan pikiran pada sebuah pura dan Beliau yang berstana di sana. Selama tiga bulan berturut-turut saya melakukan sembahyang penuh. Tiga kali dalam sehari, panca sembah dan Puja TriSandya. Satu fokus penuh selama 3 bulan itu pada satu object. Taadaa. Saya bisa trance dalam waktu 3 bulan. Pertama2 yang dirasakan dalam trance buatan ini adalah merinding (goose bump) yang luar biasa di sekitar daerah leher belakang, tubuh juga terasa ‘gining’ (apa ya Bahasa Indonesianya?) dan ringan. Sebenarnya kesadaran masih ada tapi tidak bisa dikendalikan dengan mudah. Artinya bisa dikendalikan tapi memerlukan usaha yang luar biasa. Lalu apa yang terjadi? Trance buatan ini ternyata sangat mengganggu linkungan sekitar setiap saya sembahyang karena selalu ribut (teriak2), jangankan sembahyang, lihat dupa saja sudah ‘gining’ luar biasa. Betapa hebatnya kekuatan sugesti pikiran yang difokuskan secara terus menerus. Teriak2nya agak sombong sedikit karena ‘ngaku2′ bahwa ini kekuatan anu yang datang, bahwa saya dimasuki dewa ini dan itu.
Ada juga positifnya dalam masa2 trance ini, rasa tenang dan tentram karena merasa Tuhan super dekat dengan saya. Jadi PD. Wah ga apa-apa, toh juga juga Tuhan gampang ‘dipanggil’ dan bisa dengan mudah masuk ke dalam tubuh saya, begitu kira2 yang ada dalam pikiran waktu itu. Juga mengarah malah menuju kesombongan. Panggil Tuhan? Iya dalam hal ini manisfestasi khususnya yang saya puja pada waktu 3 bulan itu. Bagaimana memanggilnya? Sederhana, saya konsentrasi saja dengan penuh dan sayapun kembali dalam keadaan trance. Tidak takut apapun, termasuk ketika hampir dikeroyok waktu ‘nganggur’ ke Kintamani :). Betul, mirip sinetron jin dan jun :).
Lama kelamaan saya sadar sendiri bahwa trance hasil karya saya itu ternyata tidak ‘asli’ karena pengaruh dua faktor tadi sugesti dan obsesi. Takutnya menjadi gila. Akhirnya kundalinipun ditutup dan melakukan kegiatan sembahyang secara ‘normal’ dan selalu berusaha positif, tidak membiarkan sugesti dan obsesi merajalela dalam pikiran saya.
Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa mendekatkan diri kepada Tuhan harus benar2 dilandasi dengan pikiran jernih dan pure. Ego, sugesti dan obsesi hanya menjadi kabut2 yang bisa menghalangi hubungan yang hakiki dengan Tuhan.

Kerauhan



Warga desa sedang heboh karena ada sepuluh KK (kepala keluarga) dari mereka yang tiba-tiba berganti nama menjadi Anak Agung (kasta yang lebih tinggi).

“Katanya tepat waktu odalan (upacara agama) di pura, keluarga besar mereka banyak yang kerasukan. Katanya yang rauh adalah Bhatara leluhur mereka, berkata bahwa katanya dulu leluhur mereka adalah raja, seorang pemimpin katanya,” begitu kata I Made Jaba Ulian Sudra.

Warga sekeha tuak pada tertawa cekikikan. Beginilah kalau membicarakan hal yang bersifat niskala (tidak nyata), terlalu banyak ‘katanya’.

“Sudah biarkan saja kalau ada hal-hal yang seperti itu. Sepertinya sudah tidak ada kebanggaan menjadi orang jaba (kasta biasa).

Masalahnya, sesudah mereka menyandang nama Anak Agung, sepuluh keluarga tersebut juga mulai bertingkah seperti Anak Agung. Dulu biasanya tidak masalah kalau duduk di bawah, sekarang asal menghadiri suatu upacara agama, semua berlomba mencari tempat duduk di atas. Biasanya tidak masalah kalau di panggil “pak”, sekarang langsung melotot matanya, bergidik kumisnya. Kalau dipanggil “ratu” langsung tersenyum manis.

Namun, yang paling membuat warga muak adalah masalah tanah dan kerja bhakti. Semenjak menjadi Anak Agung keluarga tersebut tidak mau ikut kerja bhakti, mengakui tanah pasar dan banjar adalah tanah keluarga mereka.

“Dulu leluhur kami yang punya tanah itu,” begitu klaim mereka.

Sekarang desa dan banjar harus membayar uang sewa, jika tidak, mereka akan membawa kasus ini ke pengadilan.

“Nah, inilah namanya kerasukan bermotif ekonomi. Mengaku mendapat petunjuk dari Bhatara padahal niatnya hanya mencari uang lebih banyak,” I Nyoman Meled Kaponggor menyela.

Menurut I Nyoman, ada banyak jenis kerasukan di Bali.

“Yang paling umum adalah kerasukan bhuta kala. Permintaan mereka paling ayam dan arak-brem (minuman fermentasi dari beras ketan). Dengan dihaturkan tetabuhan dan sesembahan, beres sudah urusannya,”

Kalau ada bhuta kala yang meminta sesembahan berupa manusia, sungguh keterlaluan. Asli, bhuta kala yang tidak tau HAM (Hak Asasi Manusia), dan asli itu kerjaan paranormal yang suka menakuti pasien agar dapat uang lebih banyak.

“Jenis kerauhan yang nomor dua namanya kerasukan bermotif politik. Jenis kerasukan seperti ini biasanya para tokoh masyarakat yang ingin populer, berniat menarik dukungan untuk dirinya dari Ida Bhatara Samodaya,”

Ada tokoh yang terlihat begitu sakti karena kerasukan dari bhatara resmi─seperti Bhatara Siwa dan Bhatari Durga─sampai bhatara yang belum populer─seperti Bhatara Wilwatikta, Bhatara Majapahit dan Bhatara Nusantara. Semua bhatara tersebut berkata bahwa tokoh tersebut akan menjadi pemimpin Bali masa depan. Seolah bhatara tidak ada kerjaan sampai mengambil pekerjaan Mama Lauren sebagai peramal.

“Jenis kerasukan yang ketiga adalah kerasukan bermotif ekonomi,”

Pada kerasukan yang seperti ini bhatara turun mengurus pembagian tanah, sengketa warisan, pinjaman di bank.

“Ujungnya, yang mengaku kerasukan itu pasti menurut ida bhatara posisinya paling benar,”

Ada juga kerasukan psikologis. Biasanya jenis kerasukan seperti ini hanya dialami kakek dan nenek yang tidak dihiraukan oleh anak-cucu mereka. Maklum kalau di Bali sudah biasa kalau orang tua tidak dihiraukan sewaktu masih hidup. Jika sudah meninggal baru sibuk membuatkan bade (alat pembawa mayat) paling tinggi, ngaben sampai menghabiskan satu milyar.

“Biasanya pada waktu upacara hari raya agama di rumah, kerasukanlah si nenek, bhatara yang merasuki sibuk menyalahkan anak-cucu yang tidak menghiraukan si nenek.”

Manggut-manggut semua sekaha tuak itu.

“Lantas, kalau kerasukan yang sebenarnya dari turunnya Ida Bhatara seperti apa?” I Made bertanya.

I Nyoman menjawab.

“Kalau Ida Bhatara ingin bicara, kamu pikir Ida tidak bisa turun langsung? Kenapa harus meminjam badan manusia yang dekil dan mulutnya kotor?”
Sepakat-setuju semua warga sekaha tuak.


Diambil dari kolom Bungklang Bungkling, ‘KERAUHAN’, di harian Bali Post, Minggu, 30 Mei 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Wiwid Budiastra.

Kidung Dewa Yadnya



















  1. Kawitan Warga Sari - Pendahuluan sembahyang
    1. Purwakaning angripta rumning wana ukir.
      Kahadang labuh. Kartika penedenging sari.
      Angayon tangguli ketur. Angringring jangga mure.
    2. Sukania harja winangun winarne sari.
      Rumrumning puspa priyaka, ingoling tangi.
      Sampun ing riris sumar. Umungguing srengganing rejeng

  2. Pangayat - Menghaturkan sajen
    Kidung Warga Sari

    1. Ida Ratu saking luhur. Kawula nunas lugrane.
      Mangda sampun titiang tanwruh. Mengayat Bhatara mangkin.
      Titiang ngaturang pajati. Canang suci lan daksina.
      Sami sampun puput. Pratingkahing saji.
    2. Asep menyan majagau. Cendana nuhur dewane,
      Mangda Ida gelis rawuh. Mijil saking luhuring langit.
      Sampun madabdaban sami. Maring giri meru reko.
      Ancangan sadulur, sami pada ngiring.
    3. Bhatarane saking luhur. Nggagana diambarane.
      Panganggene abra murub. Parekan sami mangiring.
      Widyadara-widyadari, pada madudon-dudonan,
      Prabhawa kumetug. Angliwer ring langit.
  3. Pamuspan - Sembahyang
    Merdu - Komala

    1. Ong sembah ning anatha. Tinghalana de Triloka sarana.
      Wahya dyatmika sembahing hulun ijeng ta tan hana waneh.
      Sang lwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadhi kita.
      Sang saksat metu yan hana wwang hamuter tutur pinahayu.
    2. Wyapi-wyapaka sarining paramatatwa durlabha kita.
      Icantang hana tan hana ganal alit lawan hala-hayu.
      Utpatti sthiti lina ning dadi kita ta karananika.
      Sang sangkan paraning sarat sakala-niskalatmaka kita.
    3. Sasi wimbha haneng: ghata mesi banyu.
      Ndan asing suci nirmala mesi wulan.
      lwa mangkana rakwa kiteng kadadin.
      Ring angambeki yoga kiteng sakala.
    4. Katemun ta mareka sitan katemu.
      Kahidepta mareka si tankahidep.
      Kawenang ta mareka si tan ka wenang.
      Paramartha Siwatwa nira warana.
  4. Nunas tirtha - Mohon tirtha
    1. Turun tirtha saking luhur. nenyiratang pemangkune.
      Mekalangan muncrat mumbul. Mapan tirtha mrtajati.
      Paican Bhatara sami, panglukatan dasa-mala.
      Sami pada lebur. Malane ring gumi.

Kamis, 19 Agustus 2010

Mitos Watugunung



Satu di antara hari terpenting Pawukon adalah Saraswati. Ini merupakan hari penutup siklus Pawukon. Pada hari tersebut, masyarakat Hindu menghaturkan banten pada lontar dan buku, serta mabakti kepada Dewi Saraswati, Dewi Ilmu Pengetahuan. Keesokannya, pada hari Banyu Pinaruh, yaitu hari pertama siklus Pawukon berikutnya, mereka melakukan penyucian ritual di sungai atau laut. Rentetan upacara ini diyakini sebagai pergantian siklus, dari suatu Pawukon ke Pawukon berikutnya.

Mitos Watugunung sendiri mengisahkan inses seorang putra, Sang Watugunung, dengan ibunya, Sinta. Setelah campur tangan Dewata, hubungan aib ini diputus dengan diciptakannya kalender, dengan titik batas hari Saraswati sebagai pemisah antara wuku terakhir (Watugunung) dengan wuku awal (Sinta). Karena bandel, kepala Watugunung kecil terluka oleh amarah ibunya. Ia pergi dan mendapat kesaktian. Muncul angkara murkanya terhadap wanita, raja-raja, dan akhirnya ibunya—yang lalu dikawininya. Di peraduan, Dewi Sinta mencari kutu di kepala suaminya. Ia melihat parut luka dulu. Menyadari telah bersenggama dengan anaknya, ia ingin putus dan mengakali Watugunung supaya melamar istri Batara Wisnu. Wisnu menganggap itu sebagai lancang. Meletuslah perang dahsyat.
Watugunung kalah oleh Wisnu yang bertriwikrama.

Berikut ini yang disuratkan lontar: Watugunung dicampakkan ke tanah pada hari Minggu Redite-Kliwon—disebut Watugunung Runtuh. Dia dibunuh pada hari Senin Soma-Umanis—disebut Sandang Watang, hari “pembuangan layon”. Lalu, dia diseret di tanah pada hari Selasa Anggara Paing, disebut Paid-paidan (seret). Kemudian, pada hari Rabu Buda Pon—disebut Buda Urip (Rabu Hidup), dia dihidupkan kembali pada hari Kamis Wrespati Wage oleh Batara Wraspati. Setelah itu dia dibunuh sekali lagi oleh Wisnu, sebelum akhirnya Siwa menghidupkannya pada hari Sukra Kliwon. Melihat Wisnu sekali lagi akan membunuhnya, Siwa pun bersabda, “ O, Wisnu, jangan bunuh lagi sang Watugunung; bila kau membunuhnya, hilanglah ajaran bagi generasi mendatang; lebih baik dia diberikan kehidupan yang kekal.”

Wisnu menjawab, “Ingin saya bunuh Watugunung oleh karena dosanya mahabesar: dia telah [mencoba] mengawini wanita yang sudah bersuami; dia telah pula bersanggama dengan ibunya dan ibu tirinya; [kesalahan ini] terlalu besar bagi dunia manusia.” Maka Siwa bersabda, “Mulai sekarang ini, pantanglah manusia mengawini wanita yang sudah bersuami, apalagi ibu dan ibu tirinya.” Lalu dia menambahkan, ”Tanpa membunuhnya, dapat kita menghukumnya dengan cara lain, oleh karena dosanya memang besar.”

Lalu Wisnu berujar, “He, Watugunung, setiap enam bulan kau akan mengalami masa leteh/kotor.” Yang disahut oleh Watugunung, “Hukuman ini hamba terima, O, Batara.” Batara Siwa lalu menghidupkan kembali raja-raja Wuku serta para Panca Resi—korban peperangan. Pada hari Saniscara Umanis turunlah para dewata untuk membersihkan dunia. Itulah hari ketika sesajen dihaturkan kepada lontar-lontar (Hari Raya Sarawati). Hari Redite Paing disebut Banyu Pinaruh, saat Watugunung dimandisucikan. Kisah ini ditulis Dewata, dan kemudian jadi ketetapan aturan sistem dewasa. Istilah dewasa merujuk pada hasil karya para Dewa, di mana para raja dimaklumatkan jadi wuku dalam kalender.

Mitos Watugunung demikian dapat diuraikan maknanya sebagai berikut: Sebelum kemenangan para dewata, mayapada tampak sebagai dunia “belum tertata”. Lembaga keluarga belum ada: Ibu (Sinta) bersikap kasar pada anaknya dan bahkan melukainya (Watugunung); sebelumnya, ayah Watugunung pun meninggalkan anak-istri seenaknya. Kehidupan seksual tak beraturan, cenderung liar: laki sesukanya memerkosa wanita. Kehidupan politik pun kacau balau: perang ada di mana-mana; Watugunung merajalela, dan bahkan menaklukkan kerajaan ibu dan ibu tirinya (masing-masing Sinta dan Landep). Puncak kekacauan-kekacauan ini adalah inses Watugunung dengan ibunya, diikuti kesadaran pada ibunya bahwa dirinya telah melakukan aib, meski itu suratan takdir—inses ini semula hanya perilaku para dewa.

Akibat aib itu timbul kekacauan kosmis, “khaos” yang total: Watugunung abai jati dirinya dan merasa sepadan dengan Dewa, hingga mengusik Wisnu, sang pemelihara Bumi. Intervensi Wisnu memulihkan kestabilan kosmis dan mengembalikan Watugunung kepada mula manusiawinya. Alih-alih dibunuh, Watugunung malah dicerahkan dan disuratkan jadi penguasa kalender serta penjamin larangan inses. Jadi, dari tokoh angkara murka yang memerkosa wanita dan mengancam para dewa kahyangan, dia berubah menjadi sarana aturan agama sekaligus penegak kestabilan di madyapada.

Apa ajaran yang tersirat di dalam mitos asal Pawukon ini? Penciptaan kalender oleh para dewata setelah mengalahkan Watugunung menegaskan pelarangan atas inses. Itulah pencerahan yang pertama. Sang ibu dan sang anak yang tadinya ternoda inses kini menempati posisi pada kedua ujung siklus Pawukon, masing-masing Watugunung pada akhir siklus dan Sinta pada awal siklus berikut.

Jadi, ibu dan anak dipisahkan, dan sekaligus diruwat oleh titik penutup siklus, yang bertepatan dengan Hari Raya Saraswati sebagaimana disinggung sekilas tadi.
Saraswati bukanlah melambangkan “pengetahuan” dalam artian yang sempit, melainkan sebagai Kesadaran. Dan, memanglah, yang paling awal dan paling universal muncul pada manusia purba ialah kesadaran bahwa kehidupan seksual di dalam keluarga dan masyarakat harus mengikuti aturan. Senggama tidak boleh dilakukan berdasarkan paksaan dan tidak boleh menyangkut sesama keluarga.
Lebih jauh, larangan atas inses Watugunung, sejatinya, boleh dianggap aturan sosial pertama pada manusia purba—sebagaimana diyakini oleh teori Freud.

Melarang inses adalah identik dengan meletakkan dasar hukum dan kehidupan sosial pada manusia yang bersangkutan. Jadi, mitos Watugunung dengan Hari Raya Saraswati-nya melambangkan peletakan dasar kehidupan sosial itu. Terkait kesadaran akan aturan seksual ini adalah munculnya Kesadaran akan waktu, yang dilambangkan oleh Watugunung sebagai penguasa kalender setelah pencerahan.
Namun, di sini terlihat bahwa pemberontakan Watugunung bukanlah berakhir dengan kemenangan manusia atas Dewa, melainkan mengembalikan manusia kepada agama, sebagaimana dilambangkan sewaktu Watugunung kalah, sadar, kemudian dijadikan penguasa atas kalender. Boleh jadi pelanggaran dan pemberontakan Watugunung menandakan awal manusia sebagai sosok yang “otonom”, terlepas dari kuasa Dewa. Tetapi, akhirnya, paling sedikit di Bali atau “di Timur”, bukanlah kebebasan yang diraih manusia, melainkan pencerahan religius alias epiphany-nya para Dewa di mana dia menyatu kembali dalam sistem yang tadinya diberontaki.

Inti ajaran jelas: keseimbangan kosmis mutlak harus dijaga, dan hal ini diartikan bahwa manusia, sebagai mikrokosmos alias Buana Alit harus tetap bersikap sebagai Buana Alit itu, yaitu mutlak harus menaati peraturan ritual yang merupakan syarat terjaganya keseimbangan makro-kosmis (Buana Agung). Aturan ritual terkait terkandung dalam kalender Pawukon dan sistem Wariga; manusia dapat hidup selaras dengan keseimbangan kosmis hanya dengan menyesuaikan tindakan dan kegiatannya dengan baik-buruknya “dewasa”, sebagaimana tertera dalam kalender Pawukon dan Wariga.

Jadi, mitos Watugunung dapat dianggap melambangkan berakhirnya, atau teratasinya, “kegelapan” manusia purba. Dengan Kesadaran yang Tercerahkan sebagaimana terwujud dalam: (1) pelarangan atas inses; (2) kesadaran akan waktu dan penyusunan kalender; (3) penetapan aturan sosial dan ritual-ritual agama; (4) epiphany alias pencerahan, terungkap unsur-unsur yang merupakan hakikat dari Jati Diri Manusia yang beradab versi Bali (dan Jawa).

Mitos Watugunung sejatinya melambangkan bagaimana manusia keluar dari kepurbaan yang paling purba—yaitu: baru muncul sebagai homo sapiens, untuk menjadi makhluk yang beradab, satu-satunya makhluk yang terpilih di muka Bumi ini. Jadi, yang dikisahkan di dalam mitos tiada lain ialah “pengadaban” di dalam dan melalui agama. Oleh karena itu, Watugunung dapat dianggap sebagai “cultural hero”—tokoh yang “mengadabkan” masyarakat Bali (dan Jawa) ke arah kemuliaan manusia seutuhnya.

Bar Breaking News

Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali.
Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti? Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat. Karena ilmu ............ lebih lanjut




Banyak spekulasi bermunculan dari peristiwa ini, diantaranya ada sebuah spekulasi baru dengan berani menyebutkan bahwa perang Mahabarata adalah semacam perang nuklir. ................ lebih lanjut 




Mitos Watugunung sendiri mengisahkan inses seorang putra, Sang Watugunung, dengan ibunya, Sinta. Setelah campur tangan Dewata, hubungan aib ini diputus dengan diciptakannya kalender, dengan titik batas hari Saraswati sebagai pemisah antara wuku terakhir (Watugunung)...... lebih lanjut










Kidung adalah sebuah nyanyian religius di Bali dalam hal menyatukan pikiran, perasaan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Kaum muda Hindu marilah kita lestarikan Kidung nan indah ini ........lebih lanjut






Warga desa sedang heboh karena ada sepuluh KK (kepala keluarga) dari mereka yang tiba-tiba berganti nama menjadi Anak Agung (kasta yang lebih tinggi)......... lebih lanjut



Di Bali, ‘kerauhan’ (trance) sudah menjadi bagian yang terpisahkan dalam kehidupan sehari2 khususnya yang berkaitan dengan upacara adat maupun upacara agama. Lalu apa sebenarnya ‘kerauhan’ itu? Bisakah dimatematiskan bahwa kerauhan sama dengan kesurupan? ......... lebih lanjut
   
  


Dalam Bhagavad-gita 3. 42 dijelaskan struktur yang membentuk jasmani dan rohani manusia mulai dari indria-indria sebagai struktur yang paling bawah, kemudian lapisan diatasnya yang lebih sempurna adalah pikiran, buddhi dan akhirnya kesadaran sang diri, Atma........... lebih lanjut 

Leak Bali


Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali.
Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti? Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat. Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri. Tidak gampang mempelajari ilmu leak. Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak. Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu. Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali.

Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh. Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya.Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar. Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia.

Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari. Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun esensinya sama dalam penerapan. Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti. Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa. Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak. Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak. Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis.Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam. Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut.

Mengapa ditempat angker? Ini sesuai dengan ilmu leak dimana orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi, biasanya di kuburan atau di tempat sepi. Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi yang mempelajarinya.Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana. Dalam menjalankan ilmu ini dibutuhkan sedikit upacara. Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak. Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri. Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya. Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai). Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya.

Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya. Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam.

Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam. Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet. Ilmu leak tidak menyakiti. Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas.Bersikap sewajarnya saja. Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan.Endih ini tidak menyebabkan panas.

Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda. Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah.

Leak Shoping di Kuburan

Pada dasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak. Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu). Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.
* Si adalah mencerminkan Tuhan
* Wa adalah anugrah
* Ya adalah jiwa
* Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
* Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api). Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan. Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut.

Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut.

Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut. Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontaksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak. Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih. Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu)

Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain.
Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya. Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak. Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati.

Orang ngeleak hanya shoping-nya di kuburan (pemuwunan). Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya. Begini bunyi doa leak memberikan berkat :

Ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah.

Sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam. Dikatakan bahwa leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu. Kenapa harus di kuburan? Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan.

Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan.

Kenapa demikian? Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit. Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan. Ini disebabkan karena kita jarang membuka lontar tatwaning ulun setra. Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa.Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan.

Di Jawa tradisi ini disebut tirakat. Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak. Leak barak (brahma). Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api. Leak bulan, leak pemamoran, leak bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, leak siwa klakah. Leak Siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya.

Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil. Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan. Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran. Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang. Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam.

Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi. Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri).

Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri. Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgent di lab. Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya, ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni…bla…bla…..

Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.